Siapa, nih, yang sudah pernah main ke Candi Cetho, Jawa Tengah?
Candi Cetho berlokasi di sebuah dusun bernama Ceto, Desa Gumeng, Jenawi, Karanganyar. Menuju ke lokasi Candi Cetho teman-teman harus mempersiapkan kendaraan yang prima.

Bagaimana tidak? Jalanan yang naik, turun, dan kelokan curam menjadi suguhannya. Namun, jangan takut perkebunan teh yang menghampar siap menenangkan degub jantungmu yang berdetak lebih cepat.
Candi Cetho berdiri kokoh di ketinggian 1496 meter di atas permukaan laut. Pantas saja rutenya tidak main-main. Pada ketinggian tersebut, Candi Cetho tidak jarang selalu diselimuti kabut. Udara dinginpun senantiasa memeluk para pengunjung di sini. Sekaligus meniupkan ruh ketenangan.
Kurang lebih aku sudah tiga kali main ke Candi Cetho. Dua kali berwisata biasa dan satu kali sebagai jalur pendakian menuju puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah.
Dolan kali ini aku ingin menjajal sesuatu yang berbeda yaitu menantang diri aku sendiri. Tantangannya adalah minim sampah saat jalan-jalan.
Emang bisa? Yuk, kita lihat! Apakah aku berhasil melakukannya?
Minim Sampah
Kita bahas dulu, yuk, teman-teman apa itu minim sampah. Gaya hidup minim sampah atau zero waste maksudnya gimana cara kita meminimalisir sampah yang terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kenapa, sih, capek-capek untuk gaya hidup minim sampah?
Tahu enggak, sampah yang menggunung di TPA-TPA? Bahkan kehabisan lahan untuk menampungnya. Tahu enggak, TPA Leuwigajah yang meledak? Tahu enggak hewan-hewan di lautan yang memakan plastik?
Salah satu alasan kuat mengapa harus meminimalisir sampah, ya, kejadian tersebut. Bisa jadi akulah penyumbang sampah yang dilakukan secara terus menerus sehingga mengakibatkan fenomena tersebut terjadi.
Jujur ya, aku belum berhasil menerapkan gaya hidup minim sampah. Aku masih tahap belajar menuju hidup minim sampah yaitu masih tahap belajar untuk sadar.
Btw, gaya hidup ini bukan asal ikut-ikutan yang lagi menjadi trend, lho. Namun, gaya hidup ini harapannya berkelanjutan sampai diwariskan ke anak cucu kita. Sayang, kan, kalau keindahan alam rusak karena sampah?
Cara Minim Sampah saat Jalan-jalan
Challenge minim sampah saat berwisata bukanlah tanpa sebab. Aku terinspirasi dari Kak Siska Nirmala. Beliau seorang zero waste adventure. Zero waste adventure adalah sebuah gerakan mandiri yang dilakukan Kak Siska untuk minim sampah dalam kegiatan petualangannya.
Dalam kesempatan Webinar dari Saya Pilih Bumi: Inspirasi Perempuan untuk Perubahan Lingkungan, satu tahun lalu, Kak Siska membagikan beberapa tips jalan-jalan minim sampah. Cekidot!
1. Rencanakan
Destinasi wisata mana yang akan dikunjungi? Ada apa aja di sana? Mau ngapain aja? Meski belum pernah sekalipun ke tempat wisata yang akan dikunjungi minimal berselancar dululah di internet.
Dari pertanyaan yang kita lontarkan sendiri, kita akan tahu kebutuhan apa saja yang dibutuhkan di sana. Sehingga barang-barang bisa disiapkan dari rumah lalu tinggal gas dolan. Meski dolannya dadakan bak tahu bulat tetap harus dipersiapkan juga, ya.
2. Persiapkan
Tips kedua, setelah direncanakan dipersiapkan, dong, tentunya. Zero waste kit ala Kak Siska Nirmala saat jalan-jalan yaitu sedia botol minum, wadah, kantong kain, dan toiletris. Kalau ala-ala aku, terlebih saat pandemi minimal seperti ini.

Barang bawaannya banyak, dong? Ah, enggak, kalau udah niat pasti enggak banyak. Harapanku barang-barang tersebut dapat membantu menyelesaikan misiku saat dolan ke Candi Cetho.
Pernah terbesit enggak, mengapa kita harus pakai barang reusable, sih? Jawabannya, hemat pengeluaran, dong.

Wow, ternyata begitu besar manfaatnya, ya. Dari satu orang bisa menghemat barang-barang sekali pakai segitu banyaknya. Bagaimana jika dilakukan oleh banyak orang?
3. Saatnya eksekusi
Candi Cetho terdiri dari sembilan teras. Ngos-ngosan pastinya. Apalagi kalau lama enggak olahraga.
Ngos-ngosannya lalu dilanjut ke pelataran Puri Dewi Saraswati yang jalannya sama-sama berundak. Biar enggak sayang bayar tiketnya, lanjut ke Candi Kethek (Kera) dengan menyusuri jalan setapak, membelah hutan, dan melewati sungai kecil yang jernih.
Eh, bayarnya dua kali, ya. Tiket ke Candi Cetho seharga Rp 10.000,00 dan Rp 7.000,00 untuk ke Candi Kethek, Sendang Saraswati, dan Air Terjun Serendeng.
Alhamdulillah zero waste kit nya berguna banget. Saat tiba-tiba haus atau lapar melanda tinggal duduk manis lalu menyantapnya. Apalagi dari Sendang Saraswati ke Candi Kethek tidak ada warung.
Otomatis, di sana aku enggak jajan makanan ringan karena sudah bawa dari rumah. Jadi bisa hemat pengeluaran untuk jajan. Kalaupun mau jajan makanan ringan atau jajanan khas di sana, aku akan pilih yang bisa pakai wadah. Jadi enggak menghasilkan sampah.
Saatnya audit sampah
Tara, ini sampah-sampah yang aku hasilkan saat main ke Candi Cetho. Berhasil? Lumayanlah untuk awalan.

Dari zero waste kit aku sangat merasakan bisa menghemat pemakaian tisu dan botol sekali pakai. Tisu sekali pakai biasa dihasilkan saat mengelap kacamata dan dari toilet. Hasilnya pun aku tidak menghasilkan tisu saat jalan-jalan ini.
Untuk makan siang, aku dan teman-teman lebih suka makan di tempat. Jadi enggak menghasilkan sampah tempat makan, deh. Meskipun makan di tempat, pilih lauknya juga jadi tantangan juga karena milih yang sekiranya tidak menghasilkan sampah.
Dari hasil audit sampah, jujur aku belum bisa makan kacang panjang mentah. Sayur terancam yang isinya kacang panjang diiris tipis-tipis saja, aku enggak doyan. Apalagi potongan kacang panjang segitu. Emang perlu belajar juga tentang hal ini.
Kertas-kertas tiket tidak bisa aku hindari. Aku simpan di saku tas lalu sampai rumah aku masukin ke ecobrick. Minimal sampah yang aku tinggal di tempat wisata jenisnya organik jadi enggak begitu masalah.
Tapi, coba deh, perhatikan masih ada kertas minyak bekas makananku. Ah, sudahlah aku sudah mencoba semaksimal mungkin.
Challenge dolan minim sampah pertama kali ini sangat tertantang. Karena mau gini, mau gitu, harus mikir dulu agar tantangannya berhasil.
Bu DK Wardhani pernah berpesan, kunci dari zero waste yaitu

Perihal menahan diri aku rasain banget saat perjalanan kali ini. Ada satu yang lupa aku bawa yaitu sedotan stainless. Haduh gimana, dong? Padahal habis panas-panasan enaknya minum es, kan?
Baiklah agar challenge tidak buyar di tengah jalan, aku pesan minuman hangat. Jarang sekali atau hampir enggak pernah, kan, minuman panas atau hangat diberi sedotan?
Yey! Berhasil enggak ambil sedotan. Alhamdulillah baik-baik saja tanpa es. Meski tambah gobyos.
Oh ya, Candi Cetho masih aktif digunakan untuk peribadatan untuk pemeluk agama Hindhu. Masa iya tempat ibadah dikotori oleh sampah-sampah teman-teman.

Jika teman-teman tidak menemukan tempat sampah, simpanlah dahulu di saku atau tas kalian lalu buanglah jika sudah menemukan tempat sampah. Terdengar aneh kali, ya, nasihat seperti ini. Tapi, masih ada, lho, padahal sudah gede masih aja buang sampah sembarangan.
Challenge diri sendiri berwisata minim sampah di Candi Cetho, semoga menjadi awal baik untuk minim sampah di perjalanan berikutnya maupun di kehidupan sehari-hari.
Berwisata identik dengan banyak sampah, asyik kan kalau bisa minim sampah. Gimana, tertarik mencoba minim sampah saat main ke tempat wisata?
Artikelnya menginsprasi sekali 😍
Akupun sedikit demi sedikit mencoba untuk mengurangi sampah.
Btw.. kaitannya dengan sampah dan heawan, sedih sekali saat mendengar ada hewan laut yg mati karena tercekik sampah 😭
LikeLike
Aamiin, terimakasih Mbak Dini. Semangat mbak.
Iya mbak, sayang banget mereka mati gara-gara sampah
LikeLike
Challenge buat diri sendiri kaya gini seru banget ya. Tantangannya selain itu adalah konsistensi kita untuk menjalankan apa yg sdh kita terapkan. Semoga bisa. Semoga biaa.
LikeLike
Betul banget mbak, walau enggak ada yg nilai tapi wow banget kalau berhasil
LikeLike
Terima kasih atas tulisannya Mbak, cukup menginspirasi, apalagi untuk masa sekarang dimana sampah sudah menjadi masalah dunia ya Mbak. Sebuah tulisan yang bagus untuk mengajak masyarakat menjadi solusi dari permasalahan banyaknya sampah yang dihasilkan!
LikeLike
Sama-sama Mbak Fadiya. Betul mbak dan aku juga masih berusaha untuk terus nerapin minim sampah. Biar nggak cuma tulisan aja.
LikeLike
Aku suka challenge untuk minim sampah saat naik angkutan umum. Aku yg terkadang suka beli jajanan untuk bekal di angkot sepulang kerja. Setelah makanan habis, aku simpan plastiknya di tas atau aku pegang aja kalo sekiranya mengandung minyak sampai nanti menemukan tempat sampah. Aku suka miris sama org2 yg buang sampah di dalem angkitan umum, atu di lempar ke jalan raya.
LikeLike
Setuju sama cara Mbak Ilsa. Lha iya tho mbak, mereka yang buang dalam angkutan umum nggak risih po ya?😅
LikeLike
waaaaah, saya terakhir naik ke candi cetha sekitar 8-9 tahun lalu, dan ternyata sekarang sudah sebagus ini ya. jadi makin kangen pengen balik ke sini lagi. kalau mau naik kesini, kendaraannya memang harus benar-benar jozz sih
LikeLike
Betul banget mbak, daripada nanti berabe mengendarainya. Ayo mbak sini lagi😃
LikeLike
Keren Mba, aku jg lg berusaha meminimalisir sampah meski dirumah sekalipun, yg bs didaur ulang di kumpulkan, yg bs di reuse jg di gunakan kembali. Smoga makin byk org mengambil langkah yg sama
LikeLike
Panutan nih Mbak Ria. Iya mbak semoga makin banyak yang sadar
LikeLike
Wah seru nih kayanya ikutan challenge gini, sampe sampah sisa makanan pun dipikirkan, very thoughtful! Btw, ecobrik itu apa ya mba?
LikeLike
Ecobrik itu sampah yang dipadatkan di dalam botol Mbak Ori. Biasanya di botol bekas AMDK gitu.
LikeLike
Seru challenge nya ya berusaha minim sampah walaupun sedang piknik lingkungan terjaga, aku geli pas baca siang terik pesan minuman hangat hihi biasanya aku langsung tenggak sih dari gelas jarang pakai sedotan jadi pengen piknik ke Candi Cetho..
LikeLike
Kalau sedotannya nggak dicemplungin sama penjualnya gpp sih mbak, tapi kalau terlanjur dicemplungin mau nggak ya dipakai, wkwk.
LikeLike
Wah… Menginspirasi sekali mba tulisanmu 😍😍. Nanti coba ahh.. Minim sampah pas lagi jalan-jalan.. Aku ajarin sama alm. Ayah waktu kalau kemana2 bawa kantong buat nyimpen sampah. Biar kamu ga buang sampah sembarangan. Ternyata nasehat papah waktu kecil sangat bermanfaat
LikeLike
Terimakasih Mbak Roswita. Yuk-yuk ditularkan ke anak2nya biar mereka terbiasa. Keren nih ajarannya alm. ayahnya Mbak Roswita, semoga menjadi amal jariyah beliau. Aamiin
LikeLike
aku pernah main ke candi cetho juga nih mba sampe puncak candinyaa, cape banget apalagi pas turun ngos-ngosannya pol :”))
LikeLike
– Dian
LikeLike
Kakinya sambil ngerem jadi tambah ngos-ngosan ya mbak, hehe. Itung-itung olahraga yg tak terduga ya mbak😅
LikeLike
Suka-suka banget dengan tema pembahasan ini 😀
Membuang sampah adalah hal sederhana yang bisa dilakukan sama semua orang dan gratis pula.. jadi memang seharusnya kita mempunyai kesadaran dan memupuk kebiasaan untuk membuang sampah pada tempatnya
LikeLike
Betul banget Mbak Aqma❤
LikeLike
[…] Kenangan yang paling gila adalah rihlah SMA. Acaranya jalan kaki dari taman hutan raya sampai Candi Cetho disertai outbound di tengah-tengah hutan. Masyaa […]
LikeLike