Memburu Senja di Perkotaan

Senja? Siapa yang tak suka senja? Justru dengan menyukainya lalu menikmatinya ialah salah satu cara merenungi akan ciptaanNya. Dari matahari terbit hingga tenggelam. Dengan warna-warna yang tak membosankan. Sungguh nikmat mana yang kau dustakan? Dia benar-benar ada. Tak usah berdebat bagaimana bentuk Dia, bagaimana rupanya, tersusun dari apa. Karena kamu enggak kuat memikirkannya. Stress sendiri jadinya.

Dua anak manusia ingin rasanya menikmati senja. Saat musim liburan kemarin keduanya berencana memburu senja dan matahari terbit di Kemuning, Karanganyar. Alhasil, rencana berakhir dengan wacana. Bukan berarti rencana sirna begitu saja. Keinginan masih bercokol di hati dua anak manusia. Ingin rasanya menapaki kembali jalanan setapak di antara rimbunnya pepohonan menuju tempat tertinggi. Menikmati senja tanpa ada yang menghalangi. Namun apa daya, kesempatan belum jua datang.

Suatu hari setelah dua anak dijamu dinginnya vanilla latte dan coffe latte. Mereka hendak melancarkan rencananya yaitu mencari tempat tertinggi di kota tentu yang bisa untuk siapa saja. Fiuh, bingung bukan main. Ya! Grandmall menjadi tambatan untuk berjumpa dengan senja.

Motor melaju membelah hiruk pikuknya jalanan. Bertepatan dengan para pencari yang sedari pagi pergi untuk pulang ke rumah. Kesabaran dan kehati-hatian sebagai penentunya meski langit sedikit berubah.

Sesampai di kaki gedung pencakar langit mereka berpacu dengan waktu menuju tempat pertemuan dua anak manusia dengan senja. Berputar-putar mencari tangga berjalan untuk membawa diri hingga ke atas. Akhirnya, dua anak manusia telah sampai. Hanya berani di parkiran dekat musholla.

Ternyata Matahari sudah ancang-ancang untuk bergantian dengan malam. Merekapun sudah siap dengan gawai di tangan. Ah! Dua anak manusia baru tersadar gagahnya gunung menghalangi pemandangan. Tapi tak apalah. Sudah cukup menyenangkan melihat bagaimana Matahari dengan anggun kembali ke peraduannya. Lalu, menyisakan semburat jingga yang disebut senja.  

Bekas Senja

Dua anak manusia kembali dipertemukan di sebuah mall di antara buku-buku yang berjajar. Di antara kesibukan mereka masing-masing sedari tadi. Kemudian mereka mencari tempat duduk untuk mengobrol. Merencakan apa yang ingin dilakukan selanjutnya. Food court menjadi solusinya meski hanya numpang duduk. Tak lama kemudian aneka menu datang menghampiri dengan pramusaji yang ramah menawarkan pahe (paket hemat). Tiba-tiba dua anak manusia ingin ke toilet. Salah satunya mengajak ke toilet di musholla dan satunyapun mengiyakan.  

Merekapun beranjak untuk memburu musholla di mall ini, Solo Square (SS). Tanya ke cleaning service. Tanya ke satpam. Menaiki lift. Menaiki tangga darurat yang cukup ngos-ngosan dan akhirnya ketemu dengan Musholla yang terdapat di rooftop.

Dua anak manusia disambut dengan hembusan angin yang cukup besar. Orang-orang riuh mempersiapkan diri menghadap Sang Robbi. Namun ada juga yang riuh di tepian gedung. Berhubung dua anak manusia berhalangan sholat mereka mendatangi orang-orang yang riuh di tepian gedung. Ternyata lukisan yang mereka cari selama ini berada di sini. Senja di perkotaan bonus dengan deretan gunung.

Senja Oh Senja

Masyaa Allah. GuratanNya yang ehm sekali. Membuat hati dua anak manusia makin cinta denganNya. Sembari menikmati senja sembari bernostalgia. Menunjuk-nunjuk pancang bumi mana yang pernah mereka tapaki dan singgahi. Alhamdulillah, pemburuan senja yang tidak sengaja. Atas seizinNya.

Setelah puas barulah ingat tujuan menuju tempat ini. Senyaman-nyaman tempat untuk melepas lelah adalah di sini.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Rasululloh SAW. Bersabda,

“Bertafakurlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu bertafakur tentang Zat Allah”

(HR. Abu Nu’aim). Syaikh Al Albani dalam Sahihul Jami’is Sagiri dab Silsilatul Ahadisis Sahihati mengatakan bahwa hadits ini berderajat hasan.

One comment

Leave a comment